Heaven!

Heaven!
Showing posts with label Lombok. Show all posts
Showing posts with label Lombok. Show all posts

Sunday, January 24, 2016

This is what we called honeymoon

Sudah tau kan alasan saya memilih Lombok sebagai tujuan honeymoon? Yaps, biar bisa full leyeh-leyeh tanpa kepikiran pengen jalan-jalan kesana kemari. Dalam memilih hotel, saya dan suami juga sengaja nyari hotel yang jauh dari hingar bingar dan kebisingan. Jadi, sudah pasti yang namanya gili trawangan, meno, dan air kami coret dari list. Pilihan selanjutnya adalah antara Kuta, Senggigi, atau Sekotong. Hmmm.. Berdasarkan berbagai pertimbangan, akhirnya kami pilih Kuta dan Senggigi.

Pilihan kami pun jatuh pada Novotel Lombok Resort and Villa sebagai tempat "ngetem" pertama setelah landing di Lombok. Novotel terletak persis di Pantai Kuta dan yang jelas jauh darimana-mana. Dengan lokasinya yang terpencil kaya gitu, udah pasti privacy nya oke banget. Tapi ya konsekuensinya, kita harus rela sewa kendaraan atau naik taxi kalau mau kemana-mana. Nah ini enaknya punya keluarga besar di Lombok, mobil pun tinggal ngerayu sepupu dan keponakan :D

Welcome!

Kami tiba di Novotel udah cukup malam, sekitar jam 9 malam. Tapi tetep loh, proses check in nya lancar dan cepet. Si Mbak resepsionisnya pun langsung mengenali kami dan form check in dengan nama kami pun udah siap di depannya. Bahkan masih ada bellboy yang bantu bawa barang kami ke kamar. Surprise surprise! Ternyata di kamar udah ada flower decorations dan complimentary fruit and wine! Asiknya lagi, kami dapat kamar yang menghadap ke bagian belakang hotel jadi jalan di depannya cenderung sepi dan jarang dilewatin orang. Terasnya asik banget buat leyeh-leyeh tanpa terganggu orang hilir mudik.

Wednesday, January 20, 2016

Leyeh-leyeh makan-makan di Lombok

Menjadi keturunan (setengah) sasak membuat saya cukup mengenal adat istiadat di pulau Lombok, tak terkecuali makanannya. Dulu saat masih ada papuq (kakek-nenek), mama papa selalu ngajak mudik ke Lombok setiap lebaran. Dulu sih bengang-bengong aja di sana, lha wong saya ga ngerti bahasa sasak, nenek pun ga bisa bahasa indonesia. Saya yang masih balita pun nempel-nempel aja ke mama. Hehe. Sekarang, setelah kakek nenek sudah ngga ada, mudik ke Lombok masih tetap dilakukan tapi menjadi 2 atau 3 tahun sekali. Lucunya, walaupun saya cukup rutin ke Lombok, saya justru kurang mengenal tempat-tempat wisata di sana, apalagi jajanan atau wisata kulinernya. Namanya juga mudik dengan tujuan silahturahmi, waktu seminggu bisa habis untuk mengunjungi rumah saudara-saudara. Makan pun ya di rumah keluarga besar.

Pertama kalinya di Lombok ga sarapan di rumah :D
Sampai akhirnya saya dan suami saya memutuskan untuk honeymoon ke Lombok. Banyak teman-teman yang heran kenapa Lombok yang kami pilih, secara ya menurut mereka saya kan orang Lombok, bisa ke Lombok kapan aja. Justru itu alasan utamanya. Justru karena ke Lombok bisa kapan aja, kami jadi bisa full leyeh-leyeh selow nyelow tanpa takut rugi ada hal yang kami lewatkan dari Lombok. Bandingkan dengan bila kami pergi ke Raja Ampat. Pasti hasrat “ogah rugi” akan muncul dan bela-belain menclok sana-sini dengan prinsip “kapan lagi bisa ke sini”. Lagipula, namanya honeymoon kan special occasion, pasti pengennya di hotel cantik nyaman dong. Nah rugi kan udah bayar hotel mahal-mahal kok malah buat bobo malem aja (dasar wanita gakmau rugi). Alasan utama lain adalah ya sekalian silahturrahmi karena keluarga papa yang sepuh-sepuh kan gabisa hadir di acara pas di Jakarta, ya jadi sekalian ngenalin suami ke keluarga besar. Ihiiyy :3

Lepas dari diet pra-nikah, tentu saya lapar banget dan bawaannya pengen jajaaan terus. Baru saat ini juga saya bisa ngerasain leluasa mau jajan atau makan apa aja tanpa ada beban “ditunggu di rumah si ini ya buat makan siang”.

Thursday, October 15, 2015

Ashtari, Ocean View Cafe in Lombok

Idul Fitri kemarin alhamdulillah ada waktu dan rejeki buat mudik ke Lombok. Berhubung judulnya "mudik" untuk "silahturahmi", jadi jelas lah sepanjang waktu diisi dengan leyeh-leyeh di rumah saudara-saudari. Percaya atau ngga, hampir 5 hari saya di Lombok, saya ga nginjek pasir pantai sekali pun! Apalagi nyemplung ke laut. Huhuhu. Baju renang tergulung rapi di koper.

Hari terakhir sebelum pulang, akhirnya tiga keponakan kesayangan saya ngajakin ngabur buat leyeh-leyeh anak muda. "Kesini yuk, daripada di rumah papuk, senyam-senyum doang ga ngerti mereka ngomong apa" *sambil pamer foto cafe menggiurkan di hp nya*. Foto yang dipamerin adalah foto dy di cafe di pegunungan (atau bukit ya?) dengan view ke pantai Kuta/Tanjung Aan. Meen, mauuk! Walaupun saat itu kami baru aja pulang dari air terjun Benang Kelambu dan super gempor karena tracking, saya langsung semangat 45 buat lanjut ke Kuta.

Selagi para orang tua ke Mataram, kami pun pisah mobil dan ngabur ke Kuta. Kalau selama ini saya ke Kuta cuma ke pantainya, kali ini saya dibawa naiiik ke gunung (atau bukit ya istilahnya?). Agak amazed juga karena ternyata kawasan ini sedang sangat berkembang. Terlihat beberapa spot yang sedang dalam tahap pembangunan hotel dan makin ke atas ada beberapa cafe yang jelas sekali baru. Tampaknya orang sudah menemukan potensi kawasan ini untuk wisata. 

Kami pun parkir di depan Ashtari Restaurant & Lounge. Pas baca papan namanya, saya pengen ketawa karena ada claim "Stunning View". Ciyeee :)). Masuk ke halaman Ashtari, kita akan ketemu gentong gede buat cuci kaki. Lalu, masuk ke resto nya pun harus lepas sandal. Hahaha. Jelas sekali ownernya ga mau pusing bersihin lantai akibat kaki-kaki berpasir.
Papannya agak cilik


Monday, April 23, 2012

Desa Sade, Lombok

Perkenalkan, ini mama saya :D
Selain terkenal karena alamnya yang indah, Lombok juga terkenal dengan budayanya yang unik. Berhubung papa saya adalah sasak otentik dan keluarga besarnya pun masih banyak yang berkumpul di desa, jadi saya masih bisa dibilang cukup familiar dengan kebudayaannya. Keluarga besar papa saya tinggal di desa Barejulat yang berada di lombok tengah. Membaca kata "desa", silakan anda bayangkan desa yang beneran desa dengan sawah terhampar, jalanan berbatu dan becek, dan udara yang dingin segar. Walaupun sekarang sudah tersentuh teknologi, saya ingat dulu saat saya kecil -kira2 sampai saya SD- listrik masih sulit, masak pake kayu bakar, rumah papuk (nenek-kakek) saya masih berupa rumah adat sasak dengan atap jerami dll, bahkan tiap malam paman saya memasang rantang di semua gagang jendela dan pintunya biar kalo ada maling yang membuka pintu/jendela ketauan. Boro-boro ada handphone, telepon rumah aja ga ada. Iya, segitu jadulnya desa saya dan sekarang saya kangen banget dengan suasana itu. Dulu karena masih kecil, selayaknya anak kecil pada umumnya, saya sering rewel kalau lagi di barejulat karena gelap, toiletnya sangat sederhana, dan tidur di lantai. Ih kalau inget itu, rasanya pengen saya getok saya yang masih kecil itu. Haha.

Saturday, April 14, 2012

Ketemu Penyu di Gili Trawangan

Turtle Conservation
Ketagihan dengan snorkeling saat di Karimunjawa, saya menyempatkan snorkeling lagi di Gili Trawangan, lombok saat mudik lebaran tahun lalu. Saat itu, orangtua saya yang sedang baik hatinya dan tidak sombong mengajak untuk "istirahat sejenak" di gili tarawangan selama 2 hari 1 malam. Wah tumben-tumbennya karena biasanya kami kalau ke gili ga pernah menginap, alias tek-tok alias pulang pergi dalam 1 hari.

Gili Trawangan adalah sebuah pulau kecil yang terletak di bagian utara dari Pulau Lombok. Dalam bahasa lombok, "gili" berarti "pulau kecil". Terdapat tiga gili pada kawasan tersebut yakni Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan. Dari ketiga gili tersebut, gili trawangan lah yang paling besar dan paling ramai dikunjungi. Sebenarnya masih banyak gili yang lain yang ada di sekitar Pulau Lombok, tapi ketiga gili ini lah yang paling populer sebagai obyek wisata. 

Monday, April 9, 2012

Berburu Ayam Taliwang

Makanan khas suatu daerah memang paling enak jika dimasak orang yang memang berasal dari daerah yang bersangkutan. Contoh sederhananya adalah masakan padang. Walaupun restoran padang sangat menjamur di berbagai kota hingga pelosok, menurut saya tetap dapat dibedakan apakah itu yang masak orang padang beneran atau orang sunda. 

Bagi saya yang cinta banget sama masakan kampung halaman saya, saya sering frustrasi kalau lagi kangen makan ayam taliwang. Bagi yang belum tahu, ayam taliwang adalah masakan khas Lombok, Nusa Tenggara Barat. Masakan ini dinamakan ayam taliwang karena awalnya masakan ayam ini berasal dari Kampung Karang Taliwang di Kota Mataram, NTB. Ayamnya biasanya dibakar dengan bumbu pedas yang khas dan dimakan bersama sambal yang pedas pula. Rasa sambalnya pun khas banget dan sangat mudah dibedakan dari sambal daerah lain. Makan ayam taliwang pun paling enak kalau ditemani pelecing kangkung. Sudah tahu dong kalau kangkung merupakan salah satu produk andalan Lombok (halah lebay..). Tapi emang bener loh, kangkungnya beda dengan kangkung yang biasa kita lihat di Jawa. Karena di sana kangkung ditanam di air, jadi kangkung yang dihasilkan pun memiliki batang yang besar dan ga "gondrong" (daunnya lebih sedikit). Kangkung ini kalau direbus enak banget, renyah. Dengan tambahan sambal tomat yang segar dan pedas, jadi deh pelecing kangkung :)